16. AL QOHHAR (Dzat Yang Maha Menundukkan) Bagi orang-orang yang masih diinginkan oleh Allah Ta’ala untuk diselamatkan, akan tetapi dia tidak mau bertaubat atas segala dosa yang telah dia lakukan, maka Allah Ta’ala akan menundukkannya agar dia mau bertaubat. Adapun penundukkan Allah Ta’ala bisa dengan cara diambil hartanya, disempitkan segala urusannya, disakitkan badannya, dihinakannya, dan lain sebagainya. Sebetulnya tujuan Al Qohhar ini adalah untuk memancing hidayah agar orang yang berdosa merasa bersalah kepada Allah Ta'ala, sehingga dia mau bertaubat. Allah Ta'ala menundukkan disebabkan hambaNya tidak mau bertaubat dengan kesadarannya sendiri, sehingga karena kasih sayang Allah Ta'ala kepada hambaNya, maka dia ditundukkan agar mau bertaubat. Sebagai contohnya seseorang yang sering menggunjing atau mengghibah orang lain. Telah diberi waktu (kesempatan) oleh Allah Ta’ala untuk bertaubat tetapi dia tidak mau. Kemudian Allah Ta’ala menyakitkan mulutnya, dengan tujuan agar dia mau berhenti dari menggunjing dan mau bertaubat, sehingga dia akan selamat diakhirat kelak. Peringatan-peringatan atau penundukan Allah Ta’ala ini berlaku bagi orang-orang yang masih ada kebaikan pada dirinya. Sehingga dengan Al QohharNya ini, Allah Ta’ala menginginkan kebaikan bagi hambanya diakhirat kelak. Karena bagi orang-orang yang tidak beriman, apabila dia ditundukkan oleh Allah Ta'ala, tidak membuatnya sadar dan bertaubat. Tetapi dia justru menyalahkan orang lain, kondisi, keadaan dan lain sebagainya. Bahkan ia juga mencari tuhan-tuhan yang lain, seperti dukun-dukun, tempat-tempat keramat, jimat-jimat dan lain sebagainya. Dan bagi orang-orang yang sudah keterlaluan menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan, maka dia tidak diinginkan untuk diselamatkan oleh Allah Ta’ala, sehingga semakin banyak dosa yang dia lakukan, semakin banyak pula kesenangan-kesenangan yang Allah Ta’ala berikan kepadanya sebagai harta istijraj. Yaitu dibukakannya pintu-pintu kesenangan sampai dengan batas waktu tertentu. Dan ketika sudah sampai batas waktunya, maka Allah Ta’ala akan menyiksanya dengan sekonyong-konyong dan akan mengazabnya diakhirat kelak dengan siksaan yang lebih berat lagi. Oleh sebab itu apabila kita masih diberi peringatan oleh Allah Ta’ala, berarti Dia masih sayang kepada kita dan menginginkan kebaikan pada diri kita. Maka bersegeralah kembali bertaubat kepada Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala berkenan menyelamatkan kita diakhirat kelak. Dan didalam bertaubat ini ada dua macam, yaitu bertaubat karena ketaqwaan dan bertaubat karena kefasikan. Seseorang yang menyadari bahwa dirinya telah berdosa kepada Allah Ta'ala, setelah itu dia bertaubat dengan sungguh-sungguh sebagai seorang hamba yang menginginkan keselamatan diakhirat kelak, maka inilah yang dinamakan bertaubat karena ketaqwaan. Sedangkan yang dimaksud bertaubat karena kefasikan adalah seseorang yang bertaubat dengan tujuan agar kiranya Allah Ta'ala Ta’ala menghilangkan (mencabut) kemudhoratan yang ia terima. Dia rela tidak mendapatkan ampunan Allah Ta'ala yang penting kemudhoratan yang menimpa dirinya dihilangkan oleh Allah Ta'ala. Maka dari itu hendaknya kita lihat diri kita masing-masing. Apakah kita bertaubat hanya sekedar ingin supaya Allah Ta’ala menghilangkan kemudharatan yang kita rasakan? Atau kita bertaubat agar Allah Ta’ala mempermudah segala urusan kita? Jika benar taubat kita seperti ini, maka kita adalah pembohong. Dan Allah Ta’ala sangat murka dengan niat kita seperti ini, karena Dia tahu persis tentang isi hati kita. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak kesombongan-kesombongan kita, baik dengan harta, ilmu, kekuasaan dan lain sebagainya, yang kesemua itu tidak dapat menyelamatkan kita di akhirat kelak? Dan seberapa banyak yang kita merasa mampu dalam segala hal, akan tetapi semua itu tidak ada manfaatnya bagi kita baik didunia maupun diakhirat? Dan segala sesuatu yang terjadi itu adalah kekuasaan Allah Ta'ala, dan apabila kita tidak mau mengikutinya, maka sesungguhnya hal itu adalah sebuah pemaksaan dari Allah Ta'ala agar kita kembali kejalan yang lurus. B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memahami tentang peringatan-peringatan yang Engkau berikan kepada kami, agar kami dapat kembali kejalan-Mu yang lurus. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa maksud Allah Ta'ala menundukkan hambaNya yang berdosa adalah agar dia mau bertaubat dan kembali kejalan yang lurus. Sedikitpun Allah Ta'ala tidak bermaksud dzolim kepada hambaNya. Oleh sebab apabila dia diberi peringatan oleh Allah Ta’ala, maka dia akan bersyukur dan memanfaatkan peringatan tersebut untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Karena dia yakin bahwa Allah Ta’ala masih sayang kepadanya dan berkehendak menyelamatkannya diakhirat kelak. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa apabila dia termasuk orang-orang yang ditundukkan oleh Allah Ta'ala akibat dosa dan kesalahan yang dia lakukan, maka dia akan memanfaatkannya untuk bertaubat kepada Allah Ta'ala dan kembali kejalan yang lurus. Orang-orang yang bertaqwa benar-benar tunduk kepada Allah Ta'ala berdasarkan ketaqwaan tidak berdasarkan kefasikan. Setelah itu dia bertaubat kepada Allah Ta'ala serta memperbaiki diri. Orang-orang yang bertaqwa didalam bertaubat semata-mata hanya mengharapkan ampunan dari Allah Ta'ala. Sedikitpun dia tidak mengharapkan agar dikembalikan lagi apa-apa yang telah diambil oleh Allah Ta'ala atau dihilangkan kemudhoratan yang menimpanya. Akan tetapi bagi orang-orang fasik, apabila dia bertaubat semata-mata hanya mengharapkan agar kesempitan atau kesulitan yang dia terima dihilangkan oleh Allah Ta'ala. Yang dia butuhkan bukanlah pengampunan dari Allah Ta'ala melainkan kesenangan duniawi. Sehingga Allah Ta'ala akan mengabulkan keinginannya, tetapi dia tidak mendapatkan ampunan Allah Ta'ala. Orang-orang yang bertaubat atau kembali kepada Allah Ta'ala ada dua macam : 1. Orang-orang yang bertaubat dengan niat yang tulus semata-mata mengharapkan pengampunan dari Allah Ta'ala. Sedikitpun dia tidak memperdulikan apakah Allah Ta'ala akan menghilangkan kemudhoratan yang dia terima atau tidak. Yang penting bagaimana Allah Ta'ala mengampuninya. Ini adalah taubat yang benar. 2. Orang-orang yang bertaubat semata-mata hanya mengharapkan agar Allah Ta'ala menghilangkan kemudhoratan yang dia terima, sedangkan masalah pengampunan Allah Ta'ala tidak dia inginkan. Ini adalah taubat yang salah. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami dapat bertaubat dan memperbaiki diri dari kesalahan dan dosa yang telah kami perbuat, sehingga kami dapat kembali beriman kepada-Mu. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal tidak mempermasalahkan penundukan Allah Ta'ala. Apapun yang Allah Ta'ala berikan dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Dan ketika dia bertaubat, yang dia inginkan adalah pengampunan Allah Ta'ala. Sedangkan masalah kemudhoratan, kesempitan atau kesusahan yang dia alami, dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Apakah Allah Ta'ala akan menghilangkannya atau tidak adalah hak Allah Ta'ala. Yang penting bagaimana Allah Ta'ala mengampuni dosa-dosanya. G. Sikap Orang Mukhlis Dia akan menerima dengan ikhlas atas kemudhoratan yang Allah Ta’ala berikan kepadanya. Apakah Allah Ta'ala akan menyakitkan badannya atau menyempitkan rizkinya. Yang penting Allah Ta'ala mengampuninya dan tidak murka kepadanya, sehingga diakhirat kelak dia bisa selamat. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Qohhar Apabila ia telah menjadi kholifah, maka ia sangat memahami Al Qohhar-Nya Allah Ta'ala, sehingga ketika Allah Ta’ala memberikan kesempitan rizki, memberikan musibah-musibah dan lain sebagainya, ia akan memaksa dirinya untuk bertaubat kepada-Nya dan kembali kejalan yang lurus. Dan terhadap sesama manusia, ia selalu mencegah dengan segala kemampuannya agar manusia tidak berbuat dzolim. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Qohhar Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu didalam memperingatkan manusia agar kembali kejalan-Mu yang lurus. Agar supaya mereka dapat menerima peringatan-peringatan yang telah Engkau berikan bukanlah suatu yang mendzolimi mereka, akan tetapi peringatan-peringatan tersebut adalah bentuk penyelamatan bagi mereka untuk menuju jalan yang lurus.